Penyerapan Garam Di Cirebon Terkendala Masalah Kualitas - Penyerapan garam oleh kalangan pengusaha industri pengguna garam
masih terkendala kualitas karena masih banyak petani khususnya di
Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon memproduksi garam dengan
kualitas yang kurang sesuai harapan.
Sebelumnya, 5 perusahaan yang merupakan anggota Asosiasi Industri
Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) menandatangani MoU untuk penyerapan
garam di wilayah Cirebon pada musim 2015 sekitar 105 ton.
Ketua Asosiasi Petani Garam Indonesia (Apgasi) Jabar, M. Taufik
mengatakan penyerapan garam di wilayah Cirebon dan Indramayu baru
sekitar 3.000 ton dan kabarnya bakal dilanjutkan sebanyak 17.000 ton
seperti dilasnir bisnis.com.
Dia menuturkan dalam nota kesepakatan bersama, penyerapan oleh 5
perusahaan anggota AIPGI sebanyak 105 ton, dan masalah kualitas jadi
hambatan penyerapan.
“Pelaku industri tentu ingin menyerap garam yang bisa digunakan
dengan standar kualitas yang diinginkan,” katanya, Rabu (7/10/2015).
Taufik mengungkapkan secara kasat mata garam produksi petani Cirebon
dan Indramayu sudah cukup bagus mulai dari kebersihan, bentuk dan kadar
airnya yang terkandung dalam garam, akan tetapi jika diuji laboratorium
maka kadar NaCl di dalamnya masih kurang.
“Rata-rata kadar NaCl garam di Cirebon dan Indramayu mencapai 89,5% harusnya di atas 94%,” ujarnya.
Taufik menambahkan kadar NaCl yang kurang maksimal akibat pola
budidaya yang kurang bagus, karena untuk produksi garam yang bagus
minimal 10 hari.
“Kebanyakan petani garam di Cirebon dan Indramayu memproduksi garam dalam 7 hari paling lama, bahkan ada yang
Info Lainnya :
QQ288.COM SITUS BANDAR TARUHAN JUDI ONLINE TERBESAR
